Angkot Grobogan Makin Sulit

May 27, 2008 at 5:18 am Leave a comment


Purwodadi BLoG | Kenaikan harga bensin dari Rp 4.500/liter menjadi Rp 6.000/liter, semakin dirasakan dampaknya oleh kru angkutan kota (angkot) di Purwodadi. Hasil yang diperolehnya menyusut drastis, bahkan terkadang pulang tak membawa uang.

Tono (45), pengemudi angkota A (jurusan Purwodadi-Toroh) mengatakan, sekarang apabila dalam sehari tidak bisa memperoleh pemasukan Rp 200 ribu, dipastikan pulang ke rumah tidak akan membawa apa-apa. Dia memerinci, uang untuk setoran angkota Rp 50 ribu per hari, ditambah untuk membeli bensin 20 liter sehari (20 x Rp 6.000) atau Rp 120 ribu.

“Hitungan itu belum ditambah dengan uang makan dan uang rokok. Makanya kami terkadang pulang tidak membawa hasil apaapa alias blong. Nasib sopir angkot, kini benar-benar semakin terjepit,” tutur Tono dengan nada sedih kepada Wawasan, Senin (26/5).

Bahkan dia juga mengaku. sering nombok setoran dengan uang rumah. Sebab penghasilannya dalam sehari, terkadang habis hanya untuk membeli bensin dan makan siang.

Menurut Margono, sopir angkot lainnya, hingga saat ini kru angkot belum berani menaikkan tarif secara resmi. Kendati diakui, beberapa di antaranya ada yang sudah menaikkan tarif lebih dari Rp 500 dari tarif biasanya.

Bakul pasar
Disebutkan Margono, salah satu kesulitan yang dihadapi selama ini, karena sebagian penumpang angkot adalah bakul pasar Purwodadi dan sekitarnya. Padahal saat membayar terkadang kurang dari tarif yang sudah ditentukan.

“Jika per orang mestinya harus bayar Rp 3.000, ada yang hanya bayar Rp 2.000 atau Rp 2.500. Kami sendiri serba bingung. Mau memaksa padahal mereka sudah jadi langganan,” imbuhnya.

Seperti diketahui, jumlah angkotan kota di Purwodadi tidak kurang ada 300 unit yang tersebar di beberapa jurusan. Antara lain jurusan Purwodadi-Toroh, Purwodadi-Godong, Purwodadi- Sedadi, Purwodadi-Boloh, Purwodadi- Ngraji, Purwodadi-Karanganyar, dan Purwodadi- Grobogan.

Esti, warga Wirosari menuturkan, ongkos perjalanan ke Purwodadi yang mesti dikeluarkan setiap harinya membengkak. Satu perjalanan yang biasanya hanya Rp 3.000, sekarang jadi Rp 4.000 per orang.

“Kalau naik bus biasanya dibayar Rp 5.000 dikembalikan Rp 1.000, sekarang tidak ada kembaliannya. Saya tahu kesulitan pengemudi, meski begitu apabila menaikan tarif jangan terlalu tinggi,” keluh Esti. Nto/Hr (WasasanDigital)

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

Bupati Berharap Bantuan BLT tidak Salah Sasaran Bantuan BLT Grobogan 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Bali NdeSo

telematika indonesia
telematika indonesia

Blog Stats

  • 135,220 hits