Proyek PHBM PT Perhutani

January 28, 2008 at 12:42 pm 1 comment


Proyek PHBM PT Perhutani
Dewa Penyelamat atau Pencabut Nyawa?

Tidak ada hutan lagi yang tersisa di Pulau Jawa, demikian pernyataan para pemerhati lingkungan. Tapi lain lagi versi PT Perhutani. Perusahaan umum negara yang ”menguasai” sebagian besar area di Jawa ini justru mengklaim hutan jatinya mampu membantu perekonomian rakyat. Di sisi lain, banjir dan longsor terus terjadi di Jawa Tengah dan sekitarnya. Apa pasal? Pekan silam, SH melakukan tinjauan lapangan ke sejumlah hutan jati di Blora dan Grobogan, Jawa Tengah. Berikut hasil laporannya.


SEMARANG – Tidak mudah memasuki kawasan Desa Jegong, Kabupaten Blora. Jalan yang ditempuh cukup terjal dan berkelok. Ditambah panas yang menyengat kulit. Tapi dibanding Jakarta, hawanya masih lumayan sejuk. Tak heran, di kiri kanan jalan rimbun dedaunan sempat menghiasi. Sebagian area sudah ditumbuhi pohon jati besar, sebagian lagi belum. Semua hutan di wilayah ini nyaris homogen, yakni hanya ditumbuhi pohon jati saja. Ada tetumbuhan jenis lain di sela-sela jati muda, biasanya jagung, kapas dan empon-empon – sejenis tanaman obat.
”Saya sudah lima kali panen jagung. Di lokasi ini sendiri saya baru satu tahun, setelah menanam berpindah-pindah dari lahan lain,” ujar Parwi (45) kepada SH di Desa Jegong, Blora, Jawa Tengah, akhir pekan silam. Parwi yang bertani sejak 1978 ini mengaku diuntungkan dengan adanya pola bagi hasil antarpetani dengan PT Perhutani, perusahaan pengembang hutan jati setempat.
Demikian pula Suko (50) yang merasa senang karena bisa menanam pohon kunci pepet di sela-sela pohon jati muda milik Perhutani. Kunci pepet yang merupakan empon-empon paling laku di desa ini bisa berharga Rp 20.000 per kg, sehingga sangat membantu ekonomi Suko dan penduduk lain.
Parwi dan Suko adalah penduduk Blora yang terlibat dalam program Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) yang diluncurkan PT Perhutani sejak 2001. Program yang ”direstui” oleh Keputusan Gubernur Jawa Tengah No 522/21/2002 ini berupa pelibatan masyarakat sekitar hutan dalam pengelolaan hutan jati milik Perhutani. Keterlibatan itu berupa diizinkannya rakyat menanam palawija di sela-sela lahan jati yang masih muda. Semua bibitnya berasal dari Perhutani dan rakyat bisa mengambil keuntungan panen palawija sepenuhnya. Sementara panen jatinya sendiri akan dilakukan bagi hasil antar-Perhutani dengan rakyat sesuai dengan perjanjian yang tertuang dalam akta notaris.
”Kami mencoba mengubah paradigma, yakni dulu hutan hanya dianggap sebagai bisnis semata, namun kini juga sebagai sumber daya yang bisa membantu rakyat,” ujar Haryono Kusumo, Ketua Biro Pembinaan Sumber Daya Hutan. Ia juga menekankan bahwa dengan program ini PT Perhutani berusaha menghapus citra buruk yang telanjur melekat. Sejak dulu nama Perhutani memang identik dengan hal-hal negatif seperti perampas tanah rakyat, penyebab banjir dan banyak lagi.

Desa Miskin
Desa Jegong merupakan satu di antara tiga desa model perdana yang dianggap sukses. Masuk dalam Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Randublatung, Jegong bisa ditempuh dalam perjalanan tiga jam dari Kota Semarang. Total populasi penduduknya sekitar 2.500 jiwa dan 87,4 persennya bermata pencarian petani. Namun dengan kepemilikan lahan rata-rata 800 meter kubik maka kebutuhan lahan pertanian masih sangat kurang.
Menurut Andi Supardi, administratur KPH Randublatung, kebanyakan desa di Randublatung mengelilingi atau berbatasan langsung dengan hutan, maka tak heran kalau secara otomatis penduduk langsung memanfaatkan hutan yang ada. Eksploitasi hutan oleh penduduk ini kerap terjadi tanpa kendali yang menyebabkan hutan gundul begitu saja. Namun sejak mereka dilibatkan dalam PHBM di tahun 2001, angka pencurian kayu bisa dikatakan menurun.
”Pencurian kayu marak terjadi sejak krisis moneter, tahun 1998. Biasanya pohon jati yang menjadi sasaran adalah yang berusia antara 20-30 tahun,” tutut Andi. Tapi sejak PHBM dilakukan maka angka pencurian mereda karena masyarakat menjadi ikut merasa memiliki hutan yang mereka tanami palawija.
Agaknya rakyat desa Jegong patut bergembira karena setelah mengalami panen pertama pada September 2002 lalu, mereka bisa membangun jembatan dan memperbaiki jalan yang rusak. Bahkan pada 2003 ini rencananya mereka bersama 11 desa lain akan menerima Rp.318 juta dari hasil produksi lahan jati seluas 45.000 meter kubik.
Bagi penduduk Desa Randurejo, Kecamatan Pulokulom, Kabupaten Grobogan, panen yang dinikmati Desa Jegong masih menjadi mimpi indah. Desa yang masuk dalam KPH Gundih ini memiliki tanah tandus berkapur yang sulit ditumbuhi tanaman. Untuk pohon jati milik Perhutani, memang tanah ini cukup ideal. Tapi bagi penduduk setempat merupakan masalah.
Di sepanjang perjalanan menuju hutan jati, bisa dengan mudah ditemui lelaki dan perempuan yang memanggul tempayan berisi air. Untuk mendapat air bersih, mereka harus menempuh jalan sejauh satu atau dua kilometer. Kemiskinan menjadi pemandangan biasa. Rumah-rumah kayu beratap jerami, tanah kering, tetumbuhan singkong dan jagung di sana-sini. Nasi menjadi makanan mewah karena padi tak bisa tumbuh. Sehari-hari mereka makan jagung yang ditumbuk menjadi menyerupai nasi, sesekali singkong.
Maka tak heran kalau mereka tergiur dengan program PHMB-nya Perhutani. PHBM yang digulirkan 2001 lalu telah menghasilkan panen tebu di mana rakyat mendapat hasil 61 persen, sisanya untuk biaya penggilingan di pabrik. Bibit tebu didapat dari Perhutani dengan memanfaatkan hutan rakyat. Memang hasil PHBM belum bisa terlihat banyak membantu, tapi menurut Hendra Suharmantono, Kepala KPH Gundih, mereka akan terus mengembangkan usaha tebu, satu-satunya tanaman andalan setempat. Perhutani akan membantu pemasarannya ke pabrik-pabrik gula.

Merusak Biodiversitas
Jegong dan Randurejo hanya segelintir dari 230 desa di seantero Jateng yang masuk dalam program PHBM. Tahun ini, target Perhutani adalah merangkul 600 desa lagi dan pada tahun 2005 seluruh desa di Jateng sudah masuk dalam PHBM. Dilihat dari aspek produksi dan ekonomi bisa dikatakan PHBM ini cukup menjanjikan. Namun bagaimana dari aspek lingkungan?
Adi Nugroho, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jateng berpendapat, selama ini Perhutani memang selalu mengedepankan produksi dan ekonomi semata. Padahal dengan sistem tanaman monokultur alias menanam hanya satu jenis pohon di area yang sangat luas berarti sama saja membunuh keanekaragaman hayati. Belum lagi usia pohon jati yang rata-rata di atas 50 tahun akan membuat orang harus menunggu lama menumbuhkannya kembali setelah ditebang.
Dari pengamatan SH di lapangan, jenis pohon yang ditanam di sela pohon jati, mayoritas adalah palawija yang tidak berusia panjang. Tanaman itu juga cepat dipanen dengan tinggi pohon yang relatif pendek. Semua ditanam di sela pohon jati muda yang menurut Perhutani adalah jenis Jati Perhutani Plus (JPP), bisa dipanen dalam kurun waktu 20 tahun. Untuk menunggu pohon ini tumbuh tinggi tentu dibutuhkan waktu lama, sementara hujan bisa datang kapan saja. Palawija tentu saja tak sanggup menahan air. Kondisi ini bisa memicu banjir di kawasan yang lebih rendah.
Contoh hutan rakyat yang ideal di mata Adi adalah hutan rakyat Wonosobo, di mana rakyat bebas menanam berbagai jenis tetumbuhan tanpa ada campur tangan pihak lain. Dengan tingkat biodiversitas tinggi maka struktur tanah maupun ekologi hutan akan terjaga. Ia juga sangat tidak setuju bahwa area pohon jati milik Perhutani layak disebut hutan. ”Itu kebun jati, bukan hutan,” tegas Adi.(Sinar Harapan)

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

Bajir Grobogan VS Sumbangan dengan Pamrih Lasem – Rembang – Purwodadi – Taruman PP

1 Comment Add your own

  • 1. Anonymous  |  June 19, 2015 at 12:58 pm

    akuu punya kunci pepet tapi bingung mu di jual ke mana…
    di desakuuuu banyak yang membudidayakan tapi pada bingung mun din jual kemanaaaa

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Bali NdeSo

telematika indonesia
telematika indonesia

Blog Stats

  • 135,367 hits