Grobogan Daerah Penyangga Beras

March 5, 2007 at 3:04 pm Leave a comment


|Kabupaten Grobogan| Apa saja peluang, hambatan dan tantangan yang harus dihadapi Pemkab setempat ke depan. Bagimana Pemkab mengelola sejumlah potensi yang dimiliki daerah ini, khususnya di bidang pertanian, yang sampai saat ini diyakini melimpah ruah. Berikut laporan wartawan Suara Merdeka, Hari Santoso.

SEKILAS orang mengenal Kabupaten Grobogan adalah sebuah wilayah yang tandus. Daerah yang sulit air, kalaupun menanam pohon pasti mati. Itulah stereotipe bagi daerah yang terluas kedua di Jateng, seletah Cilacap.

Hal itu didasari karena daerah tersebut dilewati Pegunungan Kendeng Selatan. Sebuah gugusan gunung yang tanahnya berjenis kapur. Asumsi orang akan penilaian itu tentu tidak salah. Namun, itu penilaian kulitnya saja. Bila telah menyelami karakteristik tipologi daerah ini, pastilah terhenyak.

Daerah yang sedang memperingati hari jadinya ke-281 itu, selalu dikonotasikan sebagai daerah tertinggal, ternyata memiliki potensi besar di bidang agraria. Tidak tanggung-tanggung, Grobogan mampu menyandang predikat daerah penyangga beras nasional. Belum lagi untuk palawija seperti jagung, kacang hijau dan kedelai. Untuk jagung, kualitasnya pun terbaik di Jateng.

Berbicara masalah Grobogan, daerah ini memiliki luas 1.975,86 km2, separo lahannya adalah pertanian. Data dari Dinas Pertanian memperlihatkan, lahan persawahannya seluas 97.054 hektare. Dengan luasan itu Grobogan mampu memproduksi beras sebanyak 588.215 ton sekali musim panen.

Hasil panen itu tidak tidak lepas dari faktor irigasi yang ditopang tiga bendungan. Sebagai sumber air, areal persawahan dialiri dari Bendung Kedungombo, Sedadi dan Klambu.

Pemda sadar betul dengan julukan sebagai daerah penyangga beras nasional. Bupati H Bambang Pudjiono menyatakan, kebijakan pemerintah terutama untuk investasi jangan sampai menggeser lahan persawahan.

Luasan lahan sawah di Grobogan terbagi dua bagian sesuai dengan irigasinya. Irigasi teknis yang lebih mengandalkan air bendungan kebanyakan berada di Kecamatan Godong, Gubug, Penawangan, Purwodadi dan termasuk di Toroh. Sedangkan lahan persawahan yang mengandalkan air hujan, berada di Kecamatan Tawangharjo, Ngaringan, Brati, Pulokulon.

Petani Rugi

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan, Ir Edhie Sudaryanto MM menjelaskan, banyak daerah luar Grobogan tertarik membeli beras di sini.

Sayangnya, pedagang-pedagang besar itu terkadang kurang memperhatikan harga. Akibatnya petani sering dirugikan. ”Kalau mereka membeli, biasanya tidak dalam bentuk beras, melainkan padi. Begitu melihat padi siap panen, mereka langsung tebas. Setelah itu digiling di daerah asalnya. Sayang memang, tapi petani mau dengan cara seperti itu, sehingga kami tidak bisa berbuat banyak,” tuturnya.

Dengan cara itu, sering kali beras diklaim dari daerah asal. Padahal mereka membelinya dari petani Grobogan. Sapuji, petani dan juga Sekretaris Asosiasi Perberasan Grobogan sangat yakin dengan predikat penyangga beras nasional, dan itu akan berlaku seterusnya. ”Saya yakin, Grobogan ke depan masih mampu mempertahankan sebagai daerah penyangga beras

Entry filed under: Artikel Purwodadi, Pertanian Grobogan, Potensi, Seputar Grobogan, Seputar Purwodadi. Tags: .

Grobogan 2007 Internet? Perlukah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Bali NdeSo

telematika indonesia
telematika indonesia

Blog Stats

  • 135,367 hits