Dolog Diminta Amankan Harga Gabah

March 9, 2006 at 5:36 pm Leave a comment


PURWODADI-GROBOGAN – Petani di Kabupaten Grobogan mendesak Sub Dolog Wilayah I Semarang atau Divisi Regional (Divre) I Jateng segera mengamankan harga gabah di tingkat petani.

Caranya, dengan mengadakan pembelian dalam jumlah besar sesuai harga yang ditetapkan pemerintah. Jika tidak, harga panenan itu terancam jatuh mencapai Rp 1.200/kg, seperti pada musim tanam tahun 2004. “Karena itu, satuan tugas (satgas) Divre I Jateng harus segera mengamankan harga panenan tersebut. Bila perlu, semua mitra kerja Divre, yang mendapatkan bantuan pengamanan harga gabah dari pemerintah, bersama satgas membeli dari petani langsung. Dengan cara itu diharapkan harga kembali normal,” kata Darto (45), petani Toroh, Grobogan, kemarin.

Seperti diberitakan sebelumnya, belakangan ini harga gabah di tingkat petani di Grobogan anjlok. Semula harga gabah tersebut mencapai Rp 1.800/kg, kini turun menjadi Rp 1.400-1.500/kg atau merosot antara Rp 225-325/kg dari harga patokan pemerintah, yakni Rp 1.725/kg gabah kering panen (GKP). Turunnya harga itu diduga akibat diguyur hujan yang tiada henti, sehingga rendemen gabah tersebut tinggi.

Harga gabah itu diprediksi sulit dikembalikan kepada posisi normal, apalagi kembali seperti harga yang ditetapkan pemerintah, yaitu Rp 1.725/kg.

Sebab, cuaca belakangan ini cenderung memburuk dan pedagang besar dari Jawa Barat serta Jawa Timur mulai berkurang dalam membeli gabah dari petani Grobogan. Akibatnya, gabah petani di daerah tersebut sulit terjual, sehingga harga langsung jatuh.

Januari lalu, kata Darto, pedagang besar banyak yang menitipkan uangnya kepada tengkulak di beberapa kecamatan. Bahkan, mereka berebut mencari tengkulak yang dapat dipercaya.

Soal titipan uang, menurut dia, digunakan untuk uang muka pembelian gabah, dengan sistem tebas kepada petani. Setelah pedagang besar itu datang, kekurangan dari harga tebasan langsung dilunasi.

Mulai Berkurang

Namun, kata dia, sekarang jumlah pedagang besar mulai berkurang, sehingga sebagian barang panenan tersebut menumpuk di rumah-rumah petani.

Hal itu menjadi salah satu faktor yang menyebabkan harga gabah di tingkat petani turun drastis.

Menurut Kepala Divre I Jateng, Joko Haryoto, harga gabah tersebut tidak turun. Sebab, bila diukur dari persyaratan pengadaan gabah 2006, tidak terpenuhi, mengingat rendemen mencapai 30-40%. Hal itu berarti jauh di atas yang dipersyaratkan pemerintah.

Dia mengemukakan, harga tersebut bisa dinilai jatuh bila rendemennya 25% dan hampa kotorannya hanya mencapai 10%. Namun, kenyataan di pasaran, barang tersebut laku Rp 1.400/kg.

“Kalau indikasinya begitu, kami wajib bekerja keras untuk menormalkan kembali. Sebab, jika tidak, inflasi di daerah ini tinggi. Akibatnya, roda perekonomian berjalan tersendat-sendat,” ungkapnya. (A23-62h)

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

Tiga Hari Menghilang, Guru SD Tewas Menggantung Ilagal Logging Grobogan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Bali NdeSo

telematika indonesia
telematika indonesia

Blog Stats

  • 135,367 hits